Buku Pintar Salafi Wahabi

Dalam masyarakat Muslim Indonesia terdapat banyak kelompok yang terkadang saling berseberangan satu sama lain. Baik dalam aspek pemikiran maupun gerakan. Hal ini merupakan sunnatullah. Selain bahwa Rasulullah SAW telah mengisyaratkan akan adanya keragaman itu.

Buku Pintar salafi Wahabi

Salah satu kelompok yang tumbuh dalam kurun tiga ratus tahun belakangan adalah kelompok Wahabi. Pengikut pemikiran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Najdi. Tokoh yang hidup pada abad 18 M di Jazirah Arab. Keinginannya ingin memberantas kebiasaan masyarakat Muslim yang dianggapnya sebagai bentuk kemusyrikan.

Dakwahnya ditolak. Ia lalu bekerjasama dengan Muhammad bin Saud. Penguasa kawasan Dir’iyah. Dengan menggunakan kekuasaan dan politik, pemikirannya lebih cepat bisa diterapkan. Membasmi kebiasaan masyarakat yang menurutnya adalah kesyirikan dan kemungkaran.

Gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud terhenti ketika kesultanan Turki Usmani menakhlukkan kembali kawasan yang sudah dikuasai keduanya.

Pada akhir abad dua puluh, bersamaan dengan revolusi Arab dan Perang Dunia I, keturunan Muhammad bin Saud yang bernama Abdul Aziz bin Saud berhasil mengalahkan kesultanan Hijaz yang dipimpin Syarif Husain. Pada saat bersamaan, Kesultanan Turki Usmani mengalami kekalahan telak dan akhirnya dibubarkan pada 1924. Dengan leluasa, atas bantuan Inggris, Abdul Aziz bin Saud menggempur Hijaz (Mekah, Madinah dan Taif) dan menyatukan seluruh kawasan Jazirah Arab.

Pada tahun 1980-an, bersamaan dengan menguatnya kekuatan ekonomi Arab Saudi Modern dan persaingan dengan gerakan Revolusi Islam Syiah Iran, Arab Saudi menyebarkan paham Wahabinya ke seluruh penjuru dunia Islam. Salah satunya ke Indonesia.

Berbagai program pendidikan, filantropi, pembangunan fasilitas ibadah, dan literatur, dibuat untuk mendukung penyebaran paham Wahabi. Mereka yang hidup hari ini sering tidak mau tahu bagaimana paham ini.

Buku kecil ini hadir untuk merespon perkembangan salafi-wahabi di Indonesia. Kebanyakan masyarakat merasa terganggu dan resah dengan adanya kelompok ini.

Keresahan itu disebabkan oleh kebiasaan salafi-wahabi yang suka menyalahkan, mengafirkan, dan menyesatkan tradisi dan amaliah yang dilakukan masyarakat. Padahal kebiasaan itu sudah dilakukan sejak dulu dan direstui ulama terdahulu. Memang benar dalam beragama tidak boleh ikut-ikutan atau sekedar mengikuti kebiasaan.

Beragama harus merujuk pada al-Qur’an dan hadis. Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Namun masalahnya, kelompok salafi-wahabi ini merasa benar sendiri dan menganggap amalan yang dilakukan orang lain tidak sesuai dengan al-Qur’an dan hadis.

Padahal, tidak mungkin ulama yang ada di Indonesia merestui kebiasaan masyarakat kalau tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadis, sebab mereka bukanlah orang-orang bodoh dan mengerti benar masalah agama. Parahnya lagi, salafi-wahabi seringkali menuding amaliyah masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh tradisi hindu-budha.

Tahlilan misalnya, tradisi ini dianggap warisan budaya hindu-budha, padahal kalau didalami, tahlilan tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di negara Timur-Tengah. Bahkan, ulama yang membolehkan tidak hanya dari Indonesia, tetapi sudah dibahas oleh para ulama sejak dulu dan mereka tidak satupun dipengaruhi budaya hindu-budha.

Buku kecil ini tidak membahas seluruh persoalan yang dipermasalahkan salafi-wahabi, karena butuh banyak halaman untuk mendiskusikannya satu per satu. Meskipun dengan keterbatasan halaman, buku ini berusaha untuk menjelaskan siapa itu salafi-wahabi, bagaimana cara berpikir mereka, apa saja argumentasi yang sering mereka kemukakan, dan bagaimana cara membantahnya. Semoga buku ini bermanfaat dan berkah.

Sumber : https://harakah.id/buku-pintar-salafi-wahabi-sebuah-panduan-bagi-umat-islam/

 

KLIK Disini Untuk Download Ebook Buku Pintar Salafi Wahabi

 

Tags:

      INSAN DESA.ID