Dari MDGs Ke SDGs

#LatarBelakangSDGsDesa

Dalam sidang umum PBB yang ke-60 pada tanggal 14-16 September 2005, dilakukan evaluasi 5 tahun pelaksanaan MDGs. Dalam evaluasi tersebut dikatakan bahwa 50 negara gagal mencapai paling sedikit satu target MDGs. Sedangkan 65 negara lainnya beresiko untuk sama sekali gagal mencapai paling tidak satu MDGs hingga 2040.

Desember 2015 menjadi titik terakhir pengimplementasian Millennium Development Goals (MDGs) di seluruh negara, termasuk Indonesia. Hingga tahun terakhir pelaksanaan MDGs ini, Indonesia telah berhasil mencapai 49 dari 67 target indikator yang ditetapkan. Tentu, capaian tersebut mengabarkan terjadinya peningkatan kualitas dan taraf hidup bagi rakyat Indonesia.

Laporan MDGs Indonesia 2014 menunjukkan capaian (BPS, 2015), di antaranya rasio penduduk dengan pendapatan kurang dari USD 1,00 (PPP) per kapita per hari turun dari 20,60 persen pada tahun 1990 menjadi 5,90 persen pada tahun 2008. Ketimpangan gender di tingkat pendidikan dari SD sampai dengan perguruan tinggi menurun, termasuk rasio angka melek huruf perempuan terhadap laki-laki umur 15-24 tahun. Penurunan juga berlangsung pada angka kejadian dan tingkat kematian akibat malaria. Angka kejadian, prevalensi dan tingkat kematian, serta proporsi jumlah kasus tuberkulosis yang ditemukan menurun, sementara yang diobati dan disembuhkan meningkat. Terjadi peningkatan proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak di daerah perkotaan.


Pada akhir 2014 itu, beberapa indikator yang masih memerlukan kerja keras untuk mencapainya. Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional mencapai 11,25 persen, masih jauh dari target MDGs sebesar 7,55 persen. Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum 1400 kkal/kapita/hari dari target 8,50 persen baru mencapai 17,39 persen (1400 kkal/kapita/hari), dan untuk 2000 kkal/kapita/hari dengan target 35,32 persen baru mencapai 66,96 persen. 3. Angka kematian balita dan bayi, serta angka kematian ibu telah menurun namun belum sesuai target. Demikian pula prevalensi HIV dan AIDS serta proporsi jumlah penduduk usia 15-24 yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS. Dari sisi lingkungan, jumlah emisi karbondioksida masih melebihi dari target yang ditetapkan MDGs.


Tentu, prestasi capaian MDGs yang dicapai Indonesia harus kita syukuri, dengan tetap terus melakukan upaya-upaya sistematis untuk terus meningkatkan kualitas hidup serta taraf hidup rakyat Indonesia. Secara global, berakhirnya MDGs menjadi titik awal negara-negara di dunia untuk mulai merumuskan platform baru pembangunan dunia sebagai tindak lanjut dan keberlangsungan MDGs.


Tepat pada 2 Agustus 2015, bertempat di Markas PBB, New York, sebanyak 193 negara, secara mufakat menyepakat dokumen pembangunan global baru yang berjudul Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. Pada bulan berikutnya, pada tanggal 25-27 September 2015, di tempat yang sama, perwakilan 193 negara anggota PBB menindaklanjutinya dengan melakukan pertemuan yang dikenal dengan Sustainable Development Summit. Pertemuan tersebut kemudian menyepakati dan mengesahkan sebuah dokumen yang disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs), sebuah agenda pembangunan global yang memuat 17 tujuan dan terbagi ke dalam 169 target, yang saling terkait, saling mempengaruhi, inklusif dan terintegrasi satu sama lain, universal atau tidak satu orangpun yang terlewatkan (Leave No One Behind), dengan jangka waktu pencapaian hingga tahun 2030. SDGs merupakan komitmen masyarakat internasional, tonggak baru pembangunan negara-negara, meneruskan Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs), untuk kehidupan manusia menjadi lebih baik (UN, 2015).


Sebagai sebuah agenda lanjutan dari MDGs, SDGs memiliki beberapa perbedaan dibandingkan MDGs. SDGs mengakomodasi masalah pembangunan secara lebih komprehensif, baik kualitatif, dengan mengakomodir isu pembangunan yang belum ada dalam MDGs, maupun secara kuantitatif, dengan target penyelesaian secara tuntas setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Begitu juga dengan proses perumusannya, SDGs lebih partisipatif dan tidak eksklusif birokratis, serta melibatkan pemangkun kepentingan non-pemerintah, seperti lembaga swadaya pemerintah, universitas/akademisi, sektor bisnis dan swasta, serta kelompok kepentingan lainnya.

SDGs berpedoman pada 5 prinsip-prinsip dasar yang menyeimbangkan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang dikenal dengan 5 P, yaitu (UN, 2015);


  1. People atau Manusia

Prinsip pembangunan global yang menempatkan manusia sebagai perhatian utama dalam pembangunan, dengan mengentaskan kemiskinan dan kelaparan beserta seluruh bentuk dan dimensinya. Prinsip ini juga harus memastikan seluruh manusia dapat memenuhi kebutuhannya secara adil, merata, serta hidup di lingkungan yang sehat.

  •  
  • Planet atau Bumi

Prinsip ini mengarahkan agenda perlindungan terhadap planet bumi dari degradasi dan segala bentuk kerusakan yang merugikan, melalui produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, serta mengambil aksi penting dan strategis terkait perubahan iklim, sehingga dapat mendukung kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang


  • Prosperity atau Kesejahteraan


Prinsip ini memberi jalan pembangunan yang dapat memastikan semua manusia mendapatkan kehidupan yang layak dan sejahtera, terpenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara ekonomi, sosial, teknologi, pendidikan, maupun kesehatan, serta terjadi harmoni atau keselarasan dengan alam.

  • Peace atau Perdamaian

Prinsip ini memberi arah pada terbinanya perdamaian dan keadilan, serta terbangunnya masyarakat inklusif, yang bebas dari ketakutan dankekerasan. Karena, tidak akan ada pembangunan berkelanjutan tanpa perdamaian, dan tidak akan ada perdamaian tanpa pembangunan yang berkelanjutan.

  •  
  • Partnership atau Kemitraan

Prinsip ini merupakan strategi implementasi dan pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan, melalui jalan memobilisasi, meningkatkan kemitraan dan kolaborasi dengan berbagai pihak serta dunia internasional, untuk pencapaian tujuan pembangunan global, khususnya tujuan mengentaskan kemiskinan melalui partisipasi semua negara dan semua pemangku kepentingan lainnya.


Sebagai kerangka pembangunan baru, yang telah mengakomodasi semua perubahan dunia yang terjadi pasca imlementasi Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir tahun 2015, SDGs sangat penting sebagai arah pembangunan global.


Konsep pengembangan SDGs berpijak pada tiga pilar utama, yaitu; Pertama, pembangunan manusia (Human Development), seperti pendidikan dan kesehatan; Kedua, lingkungan sosial ekonomi (Social Economic Development), seperti ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan, serta pertumbuhan ekonomi; Ketiga, lingkungan (Environmental Development), berupa ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan yang baik. Artinya, SDGs merupakan inisiatif global yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan manusia menjadi lebih baik dalam aspek sosial dan ekonomi, serta dapat bersinergi dengan lingkungan.

Info SDGs Desa Lainnya

INSAN DESA.ID