Gerakan Mahasiswa : Antara Idelisme, dan Kepentingan Instastory
Foto : doc pribadi

Gerakan Mahasiswa : Antara Idealisme, dan Kepentingan Instastory

Perubahan status dari siswa menjadi “Mahasiswa” seperti suatu yang sangat sakral dan membanggakan bagi sebagian besar dari kita yang pernah mengalaminya. Cukup dengan penambahan suku kata MAHA, menjadikan kata siswa begitu agung dan penuh dengan perubahan. Yang awalnya setiap hari harus menjalani rutinitas di sekolah, dari pagi hingga siang, atau sore dengan pelajaran yang sudah dibakukan menjadi kurikulum, memakai seragam setiap hari. Kemudian seketika, frasa maha itu membuat semuanya berubah. Kuliah dengan waktu yang tidak ber-pakem lagi, dengan mata kuliah yang bisa kita pilih sendiri, dan yang biasanya paling ditunggu-tunggu seorang siswa yang beranjak menjadi mahasiswa adalah, tidak perlu lagi memakai seragam untuk ke kampus.

Namun sedemikian sederhanakah perbedaan yang dialami dalam proses transformasi dari siswa menjadi mahasiswa? tentu saja tidak.

Diluar sekenario menyenangkan tentang kehidupan mahasiswa yang bebas, mereka punya tanggung jawab pada dirinya sendiri, bisa dapat memilih jalan dalam menjalani hidup sebagai mahasiswa, dengan segala pernak-pernik yang menghiasinya, buku, cinta, dan aksi.

Aksi demonstrasi buruh dan mahasiswa yang cukup merata secara nasional pada waktu belakangan ini menjawab pertanyaan, kemana gerakan mahasiswa? Aksi mahasiswa terkait penolakan atas disahkannya RUU Cipta Kerja menjadi bukti lagi, setelah aksi yang dilakukakan mereka setahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 23 & 24 September 2019, yang memakai tagar #ReformasiDikorupsi mampu menggerakkan ribuan mahasiswa, baik di Ibu Kota maupun di daerah. Mereka masih ada dan setia bersama kepentingan publik. Tentunya kita patut bangga pada mereka.

Bagaimanapun harus diakui, gerakan mahasiswa selalu melekat dengan sejarah perubahan di negeri ini. Perjalanan politik kebangsaan kita tak pernah lepas dari peran pemuda dan mahasiswa yang menyertainya.

Pasca reformasi, komitmen gerakan mahasiswa terhadap agenda kepentingan publik relatif masih tetap terjaga. Menariknya, gerakan mahasiswa kali ini juga dihiasi gaya kekikinian salah satunya oleh gerakan yang masif di media sosial.

Terbukti, seperti aksi mahasiswa yang dimulai pada 8 Oktober 2020 untuk mendesak pemerintah mencabut Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) yang sudah disahkan pada 5 Oktober lalu, itu dipenuhi dengan berbagai  tagar-tagar trending seperti #RakyatBukanCumaElu, #MosiTodakPercaya, dan #DemoMahasiswa. Aksi turun ke jalan masih berlanjut hingga hari ini, eskalasi dari gerakan mahasiswa ini masih terlihat massif.

Menariknya, sebagaimana kita baca di berbagai media, aksi mahasiswa kekinian mampu menginspirasi lagi gerakan pelajar sekolah menengah kejuruan (STM). Tak hanya kalangan buruh dan mahasiswa, sejumlah pelajar SMK (STM) ikut turun ke jalan. Kesempatan mereka bergabung dalam aksi demonstrasi mungkin tak lepas dari upaya untuk mengambil peran dalam momentum demonstrasi mahasiswa tersebut.

Gerakan Mahasiswa : Antara Idelisme, dan Kepentingan Instastory
Foto : doc pribadi

Tentu apa yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa yang hadir di saat-saat pergolakan isu tak lepas dari kesadaran mereka akan kekuatan yang dimiliki. Mereka memiliki suara alternatif yang bisa memengaruhi pengambil kebijakan. Sulit dibantah bahwa gerakan mahasiswa memiliki kekuatan yang historis sekaligus politis. Mereka akan selalu mendapat tempat dan relevan sepanjang zaman. Gerakan mahasiswa menyuarakan suara-suara alternatif, suara-suara idealisme dan moral politik.

Selebihnya kita berharap dari setiap aksi mahasiswa tidak terjadi penurunan kualitas. Gerakan mahasiswa harus tetap memiliki dan menjaga urgensi, gerakan mahasiswa jangan sampai hanya menjadi pentas pelahiran selebritas jalanan, apalagi hanya untuk kepentingan instastory semata. Artinya pelurusan niat menjadi penting sebelum mereka bergerak. Selain itu kualitas kajian, literasi, diskusi, dan menulis juga harus lebih digelorakan sebagai bagian dari “Gerakan Mahasiswa”. Sebelum menyatakan pendapat di depan umum, baca dan pahamilah dulu pokok persoalan, agar gerakan mahasiswa steril dari berita hoak, fitnah, dan provokasi, apalagi sampai melakukan tindakan anarkis dalam kondisi kehidupan masyarakat yg umumnya prihatin karena covid 19.

Akan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa saat mereka tetap mampu mengusung panji-panji perjuangan berlandaskan idealisme yang mereka anut. Idealisme-lah yang akan membawa mereka ke puncak pencapaian prestasi, dan keberhasilan dalam memperjuangkan suara alternative mereka untuk mempengaruhi kebijakan publik.

Idealisme, satu kata yang begitu sakral bagi mahasiswa kebanyakan. Yang menghiasi setiap langkah kaki mereka menuju kampus untuk menuntut ilmu, dan menuju ke jalan untuk menuntut keadilan. Yang seperti menjadi harga mutlak bagi setiap mahasiswa untuk memilikinya. Menjadi napas kehidupan dan indikasi adanya denyut pergerakan di kampus perjuangan. Mahasiswa adalah raga yang dijiwai idealisme atau itulah yang seharusnya.

Itulah berbagai ekspetasi terhadap “Gerakan Mahasiswa”, ditengah berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi bangsa ini. Jadi, mari kita angkat topi untuk “Gerakan Mahasiswa” yang tidak mati.

Tetap idealis dan berpikir merdeka. Panjang umur perjuangan! #HidupMahasiswa

Oleh : Asep Jazuli | #MantanMahasiswa #SuaraSunyiDariPinggiran

admin
Insan Desa | Media Edukasi dan Informasi Seputar Desa, adalah sebuah situs yang dikelola sebagai Media penyebaran informasi dan ruang referensi tentang Tata Kelola Desa, Pendampingan Desa, dan informasi berkenaan dengan Implementasi UUDesa