celotehFeaturedOPINITERBARU

Mewujudkan “Desa Surga” dengan Cara-cara Kekinian

“Desa Surga”. Sebuah gagasan yang kali pertama diperkenalkan oleh “Gus Menteri” sapaan bagi Menteri Desa PDTT RI, Dr.H.C. Abdul Halim Iskandar, M.Pd. ketika melakukan Kunjungan Kerja ke Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Puteri, Kabupaten Bogor pada awal Desember 2019 lalu. Adalah sebuah inovasi baru dalam upaya membangun desa ideal dalam konteks negara Pancasila.

 

Dilansir dari qureta.com, terminologi sederhana Desa Surga ialah desa yang harmoni, mencintai kebudayaan, menghormati perbedaan, dengan tanpa meninggalkan sentuhan teknologi sebagai sarana berinteraksi.

Desa surga adalah sebuah desa yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dalam melaksanakan tata kehidupan sosialnya, desa yang menempatkan teknologi sebatas sarana untuk semakin mengharmoniskan budaya gotong-royong masyarakat Indonesia.

Sederhananya, Desa Surga adalah ruang hidup dimana manusia ditempatkan sebagai subyek untuk berpartisipasi, merasakan manisnya hasil pembangunan, dan menikmati humansime kehidupan antar masyarakat (Kemendes PDTT, 2019).

Didalam perspektif desa membangun, desa ditetapkan sebagai subjek pembangunan, artinya sesuai dengan kewenangannya Desa dapat merencanakan sendiri, melaksanakan sendiri, dan memberdayakan sendiri masyarakatnya. Sedangkan, pemerintah yang lebih tinggi bertugas memperkuat, mendampingi, memonitor, dan mengawasi.

Dalam konteks UU No 6 Tahun 2014, membangun desa setidaknya mencakup upaya-upaya untuk mengembangkan keberdayaan dan pembangunan masyarakat desa di bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Dalam implementasi program tidak cukup hanya menyediakan basis dukungan finansial terhadap rakyat miskin, tapi juga mendorong usaha ekonomi desa dalam arti luas. Penciptaan kegiatan-kegiatan yang membuka akses produksi, distribusi, dan pasar bagi rakyat desa dalam pengelolaan kolektif dan individu mesti berkembang dan berlanjut.

Dari perpspektif desa membangun dan konteks membangun desa menurut UU Desa diatas, terdapat korelasi yang kuat dengan gagasan “Desa Surga” yang dicanangkan oleh menteri desa, yang ujung-ujungnya bertujuan untuk melakukan akselerasi dalam mewujudkan desa yang kuat, maju, mandiri dan sejahtera sebagaimana telah dimandatkan dalam UUD nomor 6 tahun 2014, bahwa pemerintah, memberdayakan masyarakat desa agar dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintah dan pembangunan.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara mewujudkan desa surga itu ?

Salah satu cara untuk mewujudkan “Desa Surga” menurut pandangan saya adalah dengan melakukan aktifasi dan optimalisasi keikutsertaan pemuda atau kaum milenial dalam pembangunan desa (dalam konteks luas). Pemuda atau kaum millenial dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan pribadi yang dinamis yang selalu menginginkan perubahan dan update terhadap situasi kekinian. Selain itu, pemuda sangat dibutuhkan karena biasanya memiliki fisik yang lebih prima dan mempunyai cara-cara kreatif.

Baca Juga : Peran Aktif Pemuda Zaman Now Dalam Membangun Desa

Untuk melakukan aktifasi dan optimalisasi peran pemuda, sinergitas dan kaderisasi menjadi keyword yang sangat penting bagi pemerintah atau pemerintah desa, serta tokoh-tokoh masyarakat desa dalam menyiapkannya.

Dari sisi sinergitas, Keberhasilan pembangunan desa bukan ditentukan oleh Pemerintah Desa saja, melainkan perlu adanya keselarasan pandangan, sumbangsih pemikiran maupun tenaga dari beberapa elemen masyarakat, salah satunya keterlibatan peran Ulama, Guru, Pengusaha, dan Pemuda. Kelima elemen Itu sangat penting untuk terus direkatkan dalam membangun suatu desa.

Baca Juga : Pentingnya Kolaborasi 5 Elemen Masyarakat Desa

Dari sisi kaderisasi, kader adalah orang yang diharapkan akan memegang pekerjaan penting di pemerintahan, lembaga, organisasi, dan sebagainya. Artinya pemuda perlu dikaderisasi, untuk memegang suatu pekerjaan penting disuatu organisasi, baik pemerintahan maupun politik. Pemuda kum kaum milenial, juga memerlukan bimbingan dan wejangan dari para “Tetua” yang lebih senior. Mereka perlu dibimbing dan diajarkan tentang kearifan local, adat, istiadat, dan kebijaksanaan leluhur dalam mengelola sebuah masyarakat. Selain itu kebutuhan kaderisasi juga dapat di identifikasi dari jenis kegiatan yang secara spesipik menjadi kebutuhan dan kepentingan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa, yaitu :

  1. Kader Pimpinan/Pemimpin Desa, adalah mereka yang dipersiapkan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan desa dimasa yang akan datang.
  2. Kader Konseptor/Pemikir, adalah mereka yang dipersiapkan untuk mengembang tugas menjadi pemikir tentang desa.
  3. Kader Penggerak, adalah mereka yang dipersiapkan untuk menggerakan kegiatan-kegiatan pemerintahan, pembangunan dan kemasayarakatan desa.
  4. Kader Fungsional, adalah mereka yang dipersiapkan untuk menjalankan tugas taktis, dan praktis.

Urgensi kaderisasi pemuda/kaum milenial, sangat penting untuk segera  diaktifasi dan dioptimalisasi, mengingat peluang, hambatan, tantangan, dan ancaman semakin dinamis. Mudah-mudahan kedepannya mereka dapat lebih berperan besar dalam segala aspek penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan desa.

Serta harapan itu mudah-mudahan tidak hanya sekedar “Mimpi”, butuh dukungan semua pihak, dan sentuhan  tangan-tangan kekuasaan untuk segera mewujudkannya. Terlebih untuk mewujudkan agenda “Desa Surga”.

Suruput Dulu Kopi Hitamnya !!!…….

Oleh : Asep Jazuli ( Pengarang Ria dan Penikmat Kopi)

Asep Jazuli
Insan Desa | Media Edukasi dan Informasi Seputar Desa, adalah sebuah situs yang dikelola sebagai Media penyebaran informasi dan ruang referensi tentang Tata Kelola Desa, Pendampingan Desa, dan informasi berkenaan dengan Implementasi UUDesa